Pengendalian Penyakit Kusta
Pengendalian Penyakit Kusta
Penyakit Kusta atau Lepra merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan utamanya mempengaruhi kulit, saraf tepi, mukosa saluran pernafasan atas dan mata. Bakteri lepra mengalami proses pembelahan cukup lama antara 2-3 minggu, daya tahan hidup diluar tubuh manusia mencapai 9 hari, dan memiliki masa inkubasi 2-5 tahun, bahkan bisa lebih dari 5 tahun. Penatalaksanaan kasus dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata. (Kementrian Kesehatan RI, 2019)
World Health
Organization Weekly Epide-miological Report
melaporkan bahwa selama
ta-hun 2012 terdapat 18.994 kasus baru di Indonesia, dengan 15.703 kasus
teridentifikasi sebagai kasus kusta
tipe Multi Basiller
(MB) yang merupakan
tipe yang menular.
Data kasus kusta
baru tahun 2012 tersebut, 6.667 kasus diantaranya oleh
dide- rita oleh kaum perempuan, sedangkan 2.191 kasus diderita oleh anak-anak.
Menurut data Profil Kese-hatan Indonesia 2013, selama periode 2008-2013, angka
penemuan kasus baru kusta pada tahun 2013 merupakan yang
terendah yaitu sebesar
6,79 per 100.000
penduduk, sedangkan angka
prevalensi kusta berkisar antara
0,79 hingga 0,96 per 10.000 (7,9 hingga 9,6
per 100.000 penduduk)
dan telah mencapai target <1 per 10.000 penduduk
atau <10 per 100.000 penduduk, sedangkan pada anak
Gejala Klinis Penyakit Kusta
Diagnosis
penyakit kusta didasarkan gambaran klinis, bakterioskopis, histopatologis, dan
serologis. Diantara ketiganya diagnosis klinislah yang terpenting dan paling
sederhana. Hasil bakterioskopis memerlukan waktu paling sedikit 15-30 menit
sedangkan histopatologis 10-14 hari. Jika memungkinkan dapat dilakukan tes
lepromin untuk membantu penentuan tipe, hasil dari tes ini baru dapat diketahui
setelah 3 minggu. Penentuan tipe kusta perlu dilakukan agar dapat menetapkan
terapi yang sesuai (Wisnu, 2015).
ANGKA CACAT TINGKAT 2 PENDERITA KUSTA BARU PER 1.000.000 PENDUDUK TAHUN 2011 – 2019
Berdasarkan
Penyakit kusta di Indonesia, terutama di daerah Pulau Jawa, seperti Yogyakarta,
Jakarta, dan Bandung. Menurut data Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2020 tercatat dari
tahun 2011 hingga 2019. Angka Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta Baru Incidence
Rate Per 100.000 Penduduk Penderita Penyakit Kusta Tahun 2011-2019. Kasus
tertinggi terjadi pada tahun 2012 sebanyak 8,71.
Upaya pengendalian penyakit kusta di du-nia menetapkan tahun 2000 sebagai tonggak pen-capaian eliminasi. Indonesia berhasil mencapai target ini pada tahun yang sama sebagai upaya global WHO yang didukung The Internastional Federation of Anti-Leprosy Associations (ILEP) mengeluarkan Enchanced Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden due to Lep-rosy (2011-2015).
Pengobatan Kusta
Metode pengobatan
utama penyakit kusta atau lepra adalah dengan obat antibiotik. Penderita kusta
akan diberi kombinasi beberapa jenis antibiotik selama 6 bulan hingga 2 tahun.
Jenis, dosis, dan durasi penggunaan antibiotik ditentukan berdasarkan jenis
kusta yang diderita.
Contoh antibiotik
yang digunakan untuk pengobatan kusta adalah rifampicin, dapsone, clofazimine,
minocycline, dan ofloxacin. Di Indonesia pengobatan kusta dilakukan dengan
metode MDT (multi drug therapy).
Operasi umumnya
dilakukan sebagai penanganan lanjutan setelah pengobatan dengan antibiotik.
Operasi bagi penderita kusta bertujuan untuk:
- Menormalkan
fungsi saraf yang rusak
- Memperbaiki
bentuk tubuh penderita yang cacat
- Mengembalikan
fungsi anggota tubuh
Penyakit kusta
atau lepra merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
leprae dan utamanya mempengaruhi kulit, saraf tepi, mukosa saluran
pernafasan atas dan mata. Bakteri lepra mengalami proses pembelahan cukup lama
antara 2–3 minggu, daya tahan hidup di luar tubuh manusia mencapai 9 hari, dan
memiliki masa inkubasi 2–5 tahun. bahkan bisa lebih dari 5 tahun.
Penatalaksanaan kasus kusta yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi
progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan
mata(Kementerian Kesehatan RI, 2019).
Berdasarkan
Penyakit kusta di Indonesia, terutama di daerah Pulau Jawa, seperti Yogyakarta,
Jakarta, dan Bandung. Menurut data Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2020 tercatat dari
tahun 2011 hingga 2019. Angka Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta Baru Incidence
Rate Per 100.000 Penduduk Penderita Penyakit Kusta Tahun 2011-2019. Kasus
tertinggi terjadi pada tahun 2012 sebanyak 8,71.
Sumber
¢ Rismayanti,
dkk. 2017. Faktor Risiko Kejadian Kecacatan Tingkat 2 Pada Penderita Kusta. Jurnal
MKMI, Vol. 13 No. 1, Maret 2017
¢ Rokhmah.,2020.
Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Kusta Di Wilayah Kerja Puskesmas
Jatibarang Kabupaten Brebes. Public Health Science Department Faculty of
Sport Science Universitas Negeri Semarang Juli 2020
Komentar
Posting Komentar